LENTERA HATI PART 2

 

Kurang lebih 2 bulan aku terkurung dalam suasana ini. Suasana yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Disini aku kesepian, aku tak akan bergaul dengan mereka yang tak selevel denganku. Kecuali Resti yang diutus oleh orangtuaku. Aku terpaksa mengikuti bimbingannya walaupun tak sepenuhnya. Kadangkala Resti menjadi pusat pelampiasan emosiku. Namun dia tetap kukuh untuk membimbingku. Huuh..Sampai kapan aku harus memakai pakaian panjang seperti ini?? Ini membuatku gerah !!! Aku ingin pulang...seketika itu juga pandanganku berkunang-kunang dan merasakan sakit dada bagian kiri.
“Alhamdulillah Non sudah sadar, sebaiknya Non istirahat dulu.” Ucap Resti tersenyum simpul.
“Aku kenapa Res??” Tanyaku penasaran.
“Tadi Non pingsan. Jadi Resti bawa ke UKS.Tadi Resti juga sempat panggilin Dokter puskesmas sebelah sekolah ini.”
“Aku sakit apa ?!” Lanjutku panik.
“Tenang, Non hanya kecapekan.” Jawab Resti yang kemudian merebahkan diriku kembali ke ranjang UKS.
“Oh.ya sudah. Kamu keluar sana. Kayaknya di musholla ada pengajian tuh. Ceramahnya kedenger sampe sini. Pasti bikin boring tuh acara. Udah buruan kamu kesana. Jangan ganggu istirahatku.”
“Masya Allah... kalau begitu Resti pergi dulu. Jangan lupa obatnya diminum. Nanti Resti sampaikan lagi pada Non materi di pengajian tadi.Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam.” Sahutku cuek.
4 hari sesudah kejadian itu, keadaanku membaik kembali. Entah kenapa aku makin tak betah jika terus berlama-lamaan di sekolah ini. Aku terus berusaha mencari suasana baru. Hingga muncul di benakku, jika nanti malam aku akan sembunyi-sembunyi pergi ke clubing. Dari sekarang juga, aku mulai mengajak satu persatu temanku di luar sekolah melalui sms yang ku kirim. Sebelumnya mereka akan menjemputku malam ini. Satu hal lagi, aku tak mungkin pergi ke clubing dengan pakaian seperti ini. Kuputuskan aku meminjam salah satu dari mereka. Dan kukenakan saat tiba di clubing. Yang makin membuatku girang, mereka setuju dengan rencana ku. Aku tak sabar menunggunya, sudah lama aku tak berkunjung kesana. Wellcome part of my life. 

Pukul 23.12
“Kalian udah sampe?? Ingat kalian jangan parkir mobil sembarangan. Agak menjauh dari sekolah. Biar aku yang nyamperin kalian. Lalu kalian beri tahu aku dimana kalian stay. Okeoke !!” Ucapku lirih melalui telepon.
Aku lekas beranjak dari asramaku. Beruntung suasana sudah cukup sepi. Walau masih ada beberapa orang yang masih lalu lalang, aku tetap berusaha meski terkadang harus menepi agar tak ketahuan. Di belakang sekolah aku mulai mencari jalan keluar. Postur tubuhku yang tinggi, membuatku mudah memanjat pagar. Namun baru separuh memanjat, diriku dikejutkan dengan suara yang khas ditelingaku.
“Ini udah larut, Non mau kemana?? Jangan bikin Resti khawatir.”
“Aku gak perlu dikhawatirin. Darimana kamu tahu aku disini!?” Sambil melanjutkan memanjatku.
“Resti tadi usai tadarus Non. Tak sengaja Resti melihat Non disini. Resti mohon Non balik.” Rintih Resti.
“Enak aja. Udah bebas gini suruh balik..” Tolakku.         
Tanpa berpikir panjang, Resti juga melakukan hal yang sama denganku. Dia sukses memanjat pagar itu. Mungkin karena postur tubuh yang sama denganku. Haaah...kacau.
“Non ini barusan sembuh. Resti gak akan biarin Non pergi. Non itu tanggung jawab Resti juga. Resti mohon Non...” Pinta Resti tapi aku tetap tak peduli.
“Resti cukup !!! cukup sudah aku selalu dipusingkan dengan kehadiranmu. Dasar drama queen. Awas jika kamu ngadu ke Mama dan Papa. Sekarang tinggalkan tempat ini.” Tegasku sambil mendorong Resti hingga terjatuh. Dengan sigap aku mencincing rok ku dan lari sekuat mungkin meninggalkan Resti. Belum jauh berlari, diriku dicegat sekawanan pemuda. Tanpa ragu salah satu dari mereka mulai menodongku dengan pisau. Aku rasa mereka ingin menjambret barang bawaanku. Lagi-lagi dadaku terasa sakit hingga membuat diriku lemas tak berdaya. Kini mereka seperti merebut mainan dari tangan seorang bayi. Namun penglihatan  dan pendengaranku  masih berfungsi ketika diriku tak berdaya. Aku mendengar suara Resti memanggilku dan langkahnya menghampiriku.
“Astaghfirullahaladzim Non... sini biar Resti bantu menepi.” Resti mencoba membantu diriku.
“Orang sekarat pake ditolongin segala haha. !!!” Ucap salah satu pemuda itu.
“Jaga omongan kalian. Bagaimana jika itu terjadi pada kalian. Bukankah Allah SWT menganjurkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Sekarang balikin barangnya Non Kinan.” Pinta Resti yang kemudian merebut paksa barang bawaanku yang dirampas oleh mereka.
“Sok alim lo !!!” Ucap kasar pemuda itu. Resti terus memaksa namun mereka tetap pada pendiriannya. Hingga sebuah pisau menghujamnya. Diriku tak bisa berbuat apa-apa karena diriku yang makin melemah. Aku shock melihat Resti tertusuk hingga membuat pandanganku kabur. Juga rasa sakit di dada yang kian menyiksa. Dan aku hanya dapat mendengar Resti merintih kesakitan. Bertahanlah Resti...
***
Cahaya putih?? tempat ini dipenuhi dengan cahaya putih. Sebenarnya ada dimana diriku?? Apa aku sudah mati?! kemudian aku mendengar tapak yang menghampiriku.
“Assalamu’alaikum Non Kinan.” Sapa hangat Resti.
“Resti. Eee...waalaikumsalam. Kamu nampak bercahaya Resti. Sebenarnya kita ada dimana.”
“Resti ingin menyampaikan jika sebagian diri Resti sudah berada dalam diri Non. Resti mohon jaga baik-baik pemberian terakhir dari Resti. Semoga itu bermanfaat bagi Non.” Lanjut Restu dengan tersenyum ramah.
“Aku tak mengerti maksud kamu. Dan pertanyaanku tadi belum sempat kamu jawab. Sebenarnya apa yang terjadi Resti?? Ini tempat apa??!!” Aku terus bertanya namun Resti hanya membisu. Kucoba meraih Resti namun tak sampai. Perlahan Resti menghilang dari hadapanku.
“Restiiii...jangan tinggalkan aku sendiri...” Isakku.
“Sadar  Nak. sadar...disini ada Mama dan Papa.”  Ucap Mama sambil mengusap dahiku.
“Mama. Papa. Aku dimana sekarang??” Aku merasa sangat bingung.
“Di rumah sakit  Nak..” Isak Papa.
“Resti mana Pa. Ma???” Nampak Mama dan Papa sangat berat mengatakannya.
“Nak. ini ada surat dari Resti untuk kamu.” Segera Mama memberikan surat titipan Resti padaku. Dalam surat tanpa amplop itu tertulis...
Assalamu’alaikum
Sebelumnya Resti bersyukur sekali bisa menulis surat ini untuk Non Kinan, mengingat waktu Resti yang tak panjang lagi. Maaf jika tulisan yang tertera dalam surat ini tak rapi. Semoga Non Kinan dapat membaca tulisan ini. Resti meminta maaf lagi jika selama keberadaan Resti membuat Non kesal, Demi Allah dalam hati Resti tidak ada niat untuk membuat Non kesal karena Non sudah seperti saudara kandung Resti sendiri. Untuk kesekian kalinya Resti meminta maaf kembali sebab Resti merahasiakan penyakit jantung Non, itu Resti lakukan karena tak ingin membuat Non panik dan terbayang-bayang akan penyakit itu. Tapi kini Non tak perlu khawatir, kini jantung Resti sudah berada dalam diri Non. Resti ikhlas memberikannya. Resti tak ingin Non memiliki hidup yang singkat. Semoga dengan jantung ini Non Kinan bisa hidup lebih berguna dengan selalu berada di jalan Allah.. Resti rasa pesan yang disampaikan dalam pesan ini sudah cukup. Resti pamit dulu Non. Sampaikan salam Resti pada orangtua Non yang berbuat baik pada Resti dan Bi Minah. Semoga kita bisa bertemu dalam mimpi. Wassalamu’alaikum...
Aku membaca surat Resti penuh sesal dan tangis. Kenapa dia yang harus meminta maaf padaku. Harusnya diriku yang memohon maaf padamu Resti. Kamu selalu berbuat baik padaku. Sedangkan dirimu tak pernah menerima perlakuan seperti yang kamu lakukan padaku. Maafkan diriku Resti...
“Jadi Resti sudah tiada Ma...”
“Ikhlaskan dia Nak...kata Bi Minah dia menulis surat itu sebelum meninggal dan mendonorkan jantungnya.”
“Kinan ingin melihat Resti yang terakhir kalinya Ma...” Paksaku.
“Tapi kamu baru saja keluar dari kamar operasi Nak.”
“Kinan mohon ijin dari Mama.”
“Tak bisa nak, Dokter berpesan untuk tidak keluar dulu. Besok Mama usahain kamu akan ikut ke pemakaman Resti.”
Kejadian itu membuat diriku terus teringat saat – saat bersama Resti.
***
Suasana pemakaman yang diiringi dengan lantunan doa-doa untuk dirimu, membuat tangisku makin menjadi. Kini kamu terbaring kaku dalam tempat yang sunyi dan gelap. Disana kamu akan menemukan kehidupan baru. Nampak orang-orang di sekitar sangat kehilangan akan sosok dirimu. Bahkan teman-teman di asrama yang belum lama mengenalmu sudah mengenal baik dirimu. Itulah dirimu yang patut akan kasih sayang mereka. Aku masih tak menyangka jika kejadian malam itu pertemuan terakhir kita.  Maafkan aku Resti...aku tak sempat membalas kebaikanmu. Hanya syair doa yang dapat kuhantarkan untukmu. Semoga kamu bahagia disana. Aku janji akan menjadi seorang muslimah yang berpegang teguh pada agama. Dan satu hal aku masih teringat kata mu saat malam itu, untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Aku akan menerapkannya. Terimakasih Resti atas bimbinganmu yang penuh kesabaran dan ketulusan. Lekas aku langsung meminta maaf pada orang tuaku dan Bi Minah selaku Ibu Resti.
Sekarang aku memulai lembaran baru tanpa Resti. Kini diriku yang sering bertanya-tanya pada mereka yang lebih mengerti dalam tentang agama. Tak seperti saat Resti masih ada, dia selalu membimbingku bahkan jika aku tak bertanya sekalipun.
Aku makin giat mengikuti serangkaian kegiatan di sekolahku. Sekarang aku dapat merasakan damainya jiwa setelah membaca Al-Qur’an, ketenangan batin setelah melaksanakan serangkaian Ibadah, hingga hal terkecil pun untuk menghargai sesama terasa nikmat. Namun ada satu hal yang terlupakan, sekolah lamaku. Ya. Disana ada beberapa orang yang tersakiti karena ulahku. Mencari waktu luang, kusempatkan diriku untuk berkunjung kesana selain meminta maaf, juga menyambung silahturahmi. Mereka nampak tercengang dengan kehadiranku. Tapi aku merasa bahagia karena mereka masih mau menerima dan memaafkan diriku. Termasuk Dito. Terima kasih kawan-kawan.

 

Komentar