Kurang
lebih 2 bulan aku terkurung dalam suasana ini. Suasana yang tak pernah
terbayangkan sebelumnya. Disini aku kesepian, aku tak akan bergaul dengan
mereka yang tak selevel denganku. Kecuali Resti yang diutus oleh orangtuaku.
Aku terpaksa mengikuti bimbingannya walaupun tak sepenuhnya. Kadangkala Resti
menjadi pusat pelampiasan emosiku. Namun dia tetap kukuh untuk membimbingku.
Huuh..Sampai kapan aku harus memakai pakaian panjang seperti ini?? Ini
membuatku gerah !!! Aku ingin pulang...seketika itu juga pandanganku
berkunang-kunang dan merasakan sakit dada bagian kiri.
“Alhamdulillah
Non sudah sadar, sebaiknya Non istirahat dulu.” Ucap Resti tersenyum simpul.
“Aku
kenapa Res??” Tanyaku penasaran.
“Tadi
Non pingsan. Jadi Resti bawa ke UKS.Tadi Resti juga sempat panggilin Dokter
puskesmas sebelah sekolah ini.”
“Aku
sakit apa ?!” Lanjutku panik.
“Tenang,
Non hanya kecapekan.” Jawab Resti yang kemudian merebahkan diriku kembali ke
ranjang UKS.
“Oh.ya
sudah. Kamu keluar sana. Kayaknya di musholla ada pengajian tuh. Ceramahnya
kedenger sampe sini. Pasti bikin boring tuh acara. Udah buruan kamu kesana.
Jangan ganggu istirahatku.”
“Masya
Allah... kalau begitu Resti pergi dulu. Jangan lupa obatnya diminum. Nanti
Resti sampaikan lagi pada Non materi di pengajian tadi.Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam.”
Sahutku cuek.
4
hari sesudah kejadian itu, keadaanku membaik kembali. Entah kenapa aku makin
tak betah jika terus berlama-lamaan di sekolah ini. Aku terus berusaha mencari
suasana baru. Hingga muncul di benakku, jika nanti malam aku akan
sembunyi-sembunyi pergi ke clubing. Dari sekarang juga, aku mulai mengajak satu
persatu temanku di luar sekolah melalui sms yang ku kirim. Sebelumnya mereka
akan menjemputku malam ini. Satu hal lagi, aku tak mungkin pergi ke clubing
dengan pakaian seperti ini. Kuputuskan aku meminjam salah satu dari mereka. Dan
kukenakan saat tiba di clubing. Yang makin membuatku girang, mereka setuju
dengan rencana ku. Aku tak sabar menunggunya, sudah lama aku tak berkunjung
kesana. Wellcome part of my life.
Pukul
23.12
“Kalian
udah sampe?? Ingat kalian jangan parkir mobil sembarangan. Agak menjauh dari
sekolah. Biar aku yang nyamperin kalian. Lalu kalian beri tahu aku dimana
kalian stay. Okeoke !!” Ucapku lirih melalui telepon.
Aku
lekas beranjak dari asramaku. Beruntung suasana sudah cukup sepi. Walau masih
ada beberapa orang yang masih lalu lalang, aku tetap berusaha meski terkadang
harus menepi agar tak ketahuan. Di belakang sekolah aku mulai mencari jalan
keluar. Postur tubuhku yang tinggi, membuatku mudah memanjat pagar. Namun baru
separuh memanjat, diriku dikejutkan dengan suara yang khas ditelingaku.
“Ini
udah larut, Non mau kemana?? Jangan bikin Resti khawatir.”
“Aku
gak perlu dikhawatirin. Darimana kamu tahu aku disini!?” Sambil melanjutkan
memanjatku.
“Resti
tadi usai tadarus Non. Tak sengaja Resti melihat Non disini. Resti mohon Non
balik.” Rintih Resti.
“Enak
aja. Udah bebas gini suruh balik..” Tolakku.
Tanpa
berpikir panjang, Resti juga melakukan hal yang sama denganku. Dia sukses
memanjat pagar itu. Mungkin karena postur tubuh yang sama denganku.
Haaah...kacau.
“Non
ini barusan sembuh. Resti gak akan biarin Non pergi. Non itu tanggung jawab
Resti juga. Resti mohon Non...” Pinta Resti tapi aku tetap tak peduli.
“Resti
cukup !!! cukup sudah aku selalu dipusingkan dengan kehadiranmu. Dasar drama
queen. Awas jika kamu ngadu ke Mama dan Papa. Sekarang tinggalkan tempat ini.”
Tegasku sambil mendorong Resti hingga terjatuh. Dengan sigap aku mencincing rok
ku dan lari sekuat mungkin meninggalkan Resti. Belum jauh berlari, diriku
dicegat sekawanan pemuda. Tanpa ragu salah satu dari mereka mulai menodongku
dengan pisau. Aku rasa mereka ingin menjambret barang bawaanku. Lagi-lagi
dadaku terasa sakit hingga membuat diriku lemas tak berdaya. Kini mereka
seperti merebut mainan dari tangan seorang bayi. Namun penglihatan dan pendengaranku masih berfungsi ketika diriku tak berdaya.
Aku mendengar suara Resti memanggilku dan langkahnya menghampiriku.
“Astaghfirullahaladzim
Non... sini biar Resti bantu menepi.” Resti mencoba membantu diriku.
“Orang
sekarat pake ditolongin segala haha. !!!” Ucap salah satu pemuda itu.
“Jaga
omongan kalian. Bagaimana jika itu terjadi pada kalian. Bukankah Allah SWT
menganjurkan kita untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Sekarang balikin
barangnya Non Kinan.” Pinta Resti yang kemudian merebut paksa barang bawaanku
yang dirampas oleh mereka.
“Sok
alim lo !!!” Ucap kasar pemuda itu. Resti terus memaksa namun mereka tetap pada
pendiriannya. Hingga sebuah pisau menghujamnya. Diriku tak bisa berbuat apa-apa
karena diriku yang makin melemah. Aku shock melihat Resti tertusuk hingga
membuat pandanganku kabur. Juga rasa sakit di dada yang kian menyiksa. Dan aku
hanya dapat mendengar Resti merintih kesakitan. Bertahanlah Resti...
***
Cahaya
putih?? tempat ini dipenuhi dengan cahaya putih. Sebenarnya ada dimana diriku??
Apa aku sudah mati?! kemudian aku mendengar tapak yang menghampiriku.
“Assalamu’alaikum
Non Kinan.” Sapa hangat Resti.
“Resti.
Eee...waalaikumsalam. Kamu nampak bercahaya Resti. Sebenarnya kita ada dimana.”
“Resti
ingin menyampaikan jika sebagian diri Resti sudah berada dalam diri Non. Resti
mohon jaga baik-baik pemberian terakhir dari Resti. Semoga itu bermanfaat bagi
Non.” Lanjut Restu dengan tersenyum ramah.
“Aku
tak mengerti maksud kamu. Dan pertanyaanku tadi belum sempat kamu jawab.
Sebenarnya apa yang terjadi Resti?? Ini tempat apa??!!” Aku terus bertanya
namun Resti hanya membisu. Kucoba meraih Resti namun tak sampai. Perlahan Resti
menghilang dari hadapanku.
“Restiiii...jangan
tinggalkan aku sendiri...” Isakku.
“Sadar Nak. sadar...disini ada Mama dan Papa.” Ucap Mama sambil mengusap dahiku.
“Mama.
Papa. Aku dimana sekarang??” Aku merasa sangat bingung.
“Di
rumah sakit Nak..” Isak Papa.
“Resti
mana Pa. Ma???” Nampak Mama dan Papa sangat berat mengatakannya.
“Nak.
ini ada surat dari Resti untuk kamu.” Segera Mama memberikan surat titipan
Resti padaku. Dalam surat tanpa amplop itu tertulis...
Assalamu’alaikum
Sebelumnya Resti bersyukur sekali
bisa menulis surat ini untuk Non Kinan, mengingat waktu Resti yang tak panjang
lagi. Maaf jika tulisan yang tertera dalam surat ini tak rapi. Semoga Non Kinan
dapat membaca tulisan ini. Resti meminta maaf lagi jika selama keberadaan Resti
membuat Non kesal, Demi Allah dalam hati Resti tidak ada niat untuk membuat Non
kesal karena Non sudah seperti saudara kandung Resti sendiri. Untuk kesekian
kalinya Resti meminta maaf kembali sebab Resti merahasiakan penyakit jantung
Non, itu Resti lakukan karena tak ingin membuat Non panik dan terbayang-bayang
akan penyakit itu. Tapi kini Non tak perlu khawatir, kini jantung Resti sudah
berada dalam diri Non. Resti ikhlas memberikannya. Resti tak ingin Non memiliki
hidup yang singkat. Semoga dengan jantung ini Non Kinan bisa hidup lebih
berguna dengan selalu berada di jalan Allah.. Resti rasa pesan yang disampaikan
dalam pesan ini sudah cukup. Resti pamit dulu Non. Sampaikan salam Resti pada
orangtua Non yang berbuat baik pada Resti dan Bi Minah. Semoga kita bisa
bertemu dalam mimpi. Wassalamu’alaikum...
Aku
membaca surat Resti penuh sesal dan tangis. Kenapa dia yang harus meminta maaf
padaku. Harusnya diriku yang memohon maaf padamu Resti. Kamu selalu berbuat
baik padaku. Sedangkan dirimu tak pernah menerima perlakuan seperti yang kamu
lakukan padaku. Maafkan diriku
Resti...
“Jadi
Resti sudah tiada Ma...”
“Ikhlaskan
dia Nak...kata Bi Minah dia menulis surat itu sebelum meninggal dan mendonorkan
jantungnya.”
“Kinan
ingin melihat Resti yang terakhir kalinya Ma...” Paksaku.
“Tapi
kamu baru saja keluar dari kamar operasi Nak.”
“Kinan
mohon ijin dari Mama.”
“Tak
bisa nak, Dokter berpesan untuk tidak keluar dulu. Besok Mama usahain kamu akan
ikut ke pemakaman Resti.”
Kejadian
itu membuat diriku terus teringat saat – saat bersama Resti.
***
Suasana
pemakaman yang diiringi dengan lantunan doa-doa untuk dirimu, membuat tangisku
makin menjadi. Kini kamu terbaring kaku dalam tempat yang sunyi dan gelap.
Disana kamu akan menemukan kehidupan baru. Nampak orang-orang di sekitar sangat
kehilangan akan sosok dirimu. Bahkan teman-teman di asrama yang belum lama
mengenalmu sudah mengenal baik dirimu. Itulah dirimu yang patut akan kasih
sayang mereka. Aku masih tak menyangka jika kejadian malam itu pertemuan
terakhir kita. Maafkan aku Resti...aku
tak sempat membalas kebaikanmu. Hanya syair doa yang dapat kuhantarkan untukmu.
Semoga kamu bahagia disana. Aku janji akan menjadi seorang muslimah yang
berpegang teguh pada agama. Dan satu hal aku masih teringat kata mu saat malam
itu, untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Aku akan menerapkannya.
Terimakasih Resti atas bimbinganmu yang penuh kesabaran dan ketulusan. Lekas
aku langsung meminta maaf pada orang tuaku dan Bi Minah selaku Ibu Resti.
Sekarang
aku memulai lembaran baru tanpa Resti. Kini diriku yang sering bertanya-tanya
pada mereka yang lebih mengerti dalam tentang agama. Tak seperti saat Resti
masih ada, dia selalu membimbingku bahkan jika aku tak bertanya sekalipun.
Aku
makin giat mengikuti serangkaian kegiatan di sekolahku. Sekarang aku dapat
merasakan damainya jiwa setelah membaca Al-Qur’an, ketenangan batin setelah
melaksanakan serangkaian Ibadah, hingga hal terkecil pun untuk menghargai
sesama terasa nikmat. Namun ada satu hal yang terlupakan, sekolah lamaku. Ya.
Disana ada beberapa orang yang tersakiti karena ulahku. Mencari waktu luang,
kusempatkan diriku untuk berkunjung kesana selain meminta maaf, juga menyambung
silahturahmi. Mereka nampak tercengang dengan kehadiranku. Tapi aku merasa
bahagia karena mereka masih mau menerima dan memaafkan diriku. Termasuk Dito.
Terima kasih kawan-kawan.
Komentar
Posting Komentar