LENTERA HATI PART 1

Mengisi Bulan Ramadhan aku mau berbagi cerpen pertamaku dengan tema religi. Maaf klo cerpennya gaje, typo atau apalah hehe. Aku harap kalian suka dengan alur ceritanya :D Happy Reading ^^.  

 

Haaah..rasa suntuk mulai menghujamku ketika pelajaran berlangsung. Saat itu pula aku hanya sibuk dengan pulpen dan buku yang kubawa. Papan tulis nampak terisi penuh oleh catatan rapi Bu Rida. Ingin secepatnya aku mengakhiri sesi ini. Daripada bosan menunggu pelajaran yang tak kunjung usai, perlahan aku mulai menjumput benda dalam tas ku. Sudah kuduga teman sebangkuku tahu apa yang akan kuperbuat. Walau ia sudah memperingatkanku, tetap saja kuacuhkan peringatannya. Lagipula dia juga bukan siapa-siapa aku, hanya seorang cowok yang membuat hari-hariku terasa suram. Aku heran ia kerap memperingatkanku dengan nasehatnya. Apa dia tak bosan?!!. Aaah..sudahlah. Ku lanjutkan permainanku tadi.
“Mana Ya ??” batinku berkata sambil merogoh isi tas. Sesekali aku menengok ke Bu Rida untuk memastikan situasi aman.
“Akhirnya...huuuh.” dengan sembunyi aku mulai mengutak atik handphone ku.
“Wuidiiih...tinggal 2 level lagi !!! Lanjuut.”
“Heh !” Jail Dito teman sebangkuku.
“Apaan sih ! ganggu aja. Mending kamu duduk manis, dengerin Ibu Guru bercuap cuap gak jelas.”
“Astaghfirullah.. jaga ucapanmu. Beliau disini juga sebagai orang tua kita, Insya Allah beliau akan menghantarkan kita pada kesuksesan melalui ilmu yang beliau ajarkan. Tolong kamu hargain dia.” Ucap Dito sok menasehatiku.
“Terserah mau ngomong apa. Peduli amat.” Lanjutku
“Sini !!” sambung Dito yang langsung merebut handphone ku.
“Balikin ga !!!” Tegasku padanya.
“Jadi ini, yang membuatmu mengabaikan kewajiban seorang siswa...”
Tingkah Dito makin membuatki kesal...aku berusaha merebut handphone ku dari genggamannya. Bahkan aku tak sadar jika aksiku itu membuat sebuah kegaduhan, hingga Bu Rida berpaling dari kesibukannya. Sontak Bu Rida langsung menghampiri mejaku.
“Ulah apa lagi yang kamu perbuat Kinan !!“ Tanya Bu Rida sembari mengusap tangannya yang belepotan karena spidol.
“Emmm...gimana ini?” batinku gelisah.
“Kamu ingin Ibu keluarkan dari pelajaran ini !! Dan kamu Dito. Baru kali ini Ibu melihat kamu membawa handphone saat jam pelajaran. Oh..kamu mulai ketularan bandelnya dia ?!”
“Enggak Bu. Ibu jangan salah paham dulu.”
Tanpa menunggu lama, Dito langsung menceritakan kronologi yang sebenarnya. Aku pun hanya bisa terdiam saja merasakan keringat dingin yang mulai berucuran.
“Berikan handphonenya pada Ibu.”
“Ini Bu.” Serah Dito begitu saja.
“Kamu ini seorang perempuan. Tapi bandelnya kelewatan !!! Jadi selama Ibu mencatat kamu hanya asik-asikan main game. Ibu kecewa. Apa kamu belum puas dengan teguran Ibu kemarin ?!. Oke HP kamu Ibu sita. Seusai pelajaran Pak Kemal kamu langsung menemui Ibu di kantor.” Ucap Bu Rida dengan raut muka kesal.
Semua ini gara-gara Dito...!!! Kenapa sih dia melakukannya. Kini Bu Rida beranjak pergi dari tempatku. Saat itu juga, emosiku mencuat mengarah Dito. Tak peduli aku mencubitnya. Bahkan tak segan-segan aku menginjak kakinya sekeras mungkin. Nampak wajah Dito menahan kesakitan. Mana mungkin ia berani berteriak karena pelajaran Bu Rida sedang berlangsung kembali.
***
Kantin atau kantor ?! kantor atau kantin ?! Ah ! Biarin. Kantin ajalah !! Tapi, nanti bisa kena ocehannya lagi. Hiiisssh...kenapa harus menemuinya pada saat aku lapar. Terpaksa deh !!!
“Memandangnya saja sudah malas. Apalagi face to face.” Langsung saja aku memasuki kantornya hingga membuat Bu Rida sedikit terkejut.
“Apa kamu tak bisa ketuk pintu dulu !”
“Maaf Bu.” Jawabku datar.
“Duduk. Berikan ini pada orang tuamu.” Seraya memberikan amplop putih padaku.
“Surat dari BK??” tebakku.
“Kenapa kamu tanyakan lagi. Sudah sekian kalinya kamu melakukannya. Ibu gak mau tau.. orang tua kamu harus datang besok.”
“Yaaah...Bu...orang tua saya ada acara. Batalin ajalah Bu...”
“Oh ya ?!! Liat saja besok.” Ucap Bu Rida Singkat.
“Maksud Ibu??” keningku mengerut.
“Sudah sana keluar, Ibu lagi sibuk. Terimakasih kamu sudah menemui Ibu.”
Lantas aku melangkah keluar dari kantor. Kusempatkan diriku menoleh Bu Rida. Dia hanya menunduk sembari menggelengkan kepala. Entah karena diriku atau sebuah buku yang sedang ia baca.
***
Jam istirahatku ada yang terbuang karena urusan yang tak penting bagiku. Hmmm...lapar memang tak bisa diajak kompromi. Langsung saja aku menuju kantin. Yah kantin sederhana, namun menunya yang begitu elite. Banyak murid kalangan atas yang singgah kesini, termasuk aku.
“Bu menu seperti biasa sama minumannya juga.”
“Baik Non.”
Sambil menunggu pesanan datang, aku memandangi sekitar kantin. Hanya itu yang kulakukan. Mau gimana lagi, Hpku sudah ditangan Bu Rida. Untuk menghubungi teman-temanku pun susah. Karena mereka tak sekelas denganku. Ditooo awas kamu !!!
***
Dari sekolah hingga pulang masih terniang kejadian tadi. Dan surat BK itu tak akan pernah kuberikan pada orang tuaku. Biarkan saja surat itu usang dengan sendirinya.
“Non sepatunya dilepas dulu. Soalnya kotor sekali.” Perintah Bi Minah.
“Bibi disini kerja kan !! yaudah tinggal pel aja. Rempong amat !!”
“Tapi lantainya barusan Bibi pel Non..” jawab Bibi menunduk.
“Aku tuh capek Bi !! Sekalian nih bersihin sepatuku.” Tegasku sambil melempar kasar sepatuku ke lantai.
Aku lekas menuju kamarku. Langkahku terhenti ketika Mama menyapaku.
“Udah pulang nak??” sapa hangat Mama.
“Ehem.” Anggukku.
“Kok kelihatan lesu. Kenapa nak??”
“Oh enggak ma. Kinan baik-baik aja. Aku ke kamar dulu yah ma.” Aku berusaha meyakinkan mama dengan perkataanku itu. Kurasa Mama percaya. Namun suara serak basah memalingkan perhatianku.
“Benar tak ada apa-apa?” Sambung Papa tiba-tiba sambil melepaskan kancing lengannya. Sepertinya Papa barusan pulang dari kantor.
“Bukankah Papa sudah mendengarnya sendiri.” sahutku.
Seketika itu juga Papa ingin menamparku. Beruntung Mama mencoba melerainya. Entah apa yang Papa pikirkan sekarang.
“Bisa-bisanya kamu berbohong !!!”
“Maksud Papa??” tanyaku heran.
“Halaah...mana surat Bknya !!!”
“Surat apa ?? ngarang ih.”  Aku berusaha menghindar.
“Sini kamu !!!” Papa menarikku dan membuka paksa isi tasku. Alhasil surat BK yang kusembunyikan berhasil diraih Papa. Sedangkan diriku tak bisa bertindak apa-apa.
“Tapi. Bagaimana..” ucapku kagok.”
“Guru kamu sudah menelpon sebelumnya.” gertak papa dengan mengangkat kedua alisnya.
“Nak jangan sampe surat teguran menjadi bahan koleksi kamu. Mama sungguh kecewa.”
“Liat ma. Sifat neneknya turun ke dia. Mama sih dulu keseringan nitipin dia ke neneknya.”
“Maaf pa..habis Neneknya terlalu lengket sama Kinan kecil. Mau bagaimana lagi. Dia kan juga mertua mama. Gak enak kan terlalu ngasih jarak antara mereka.”
“Hadeeeh. Malah ribut sendiri. Kinan ke kamar dulu. Pusing.” Aku melangkah begitu saja meninggalkan mereka.
“KINAN !!! kemari kamu !!! dasar anak kurang ajar !!!”
“Gurunya aja yang lebay pa ma. Dikit-dikit surat teguran. Lama-lama Kinan bosan sekolah disana.”  Gerutuku kesal dari anak tangga.
***
Kali ini guru BK berbicara panjang lebar hingga kupingku terasa panas. Tak apalah asal HP ku bisa balik haha. Kutelusuri lobi bersama mama dan papa. Mereka-mereka yang sedang asyik dengan kesibukannya, terhenti sejenak ketika kami melintasi mereka. Lantas papa berkata lirih padaku.
“Papa harap ini yang terakhir. Masih mending jika dipanggil karena berita baik. Nah ini ! Jangan bikin kami malu.” Ucap Papa sambil berusaha menjaga imagenya. Aku hanya cuek mendengarnya sembari mengikuti langkah kedua orangtuaku. Diantara mereka Dito tengah sibuk dengan I Pad yang dibawanya. Kesempatan bagus untuk ku.
“Mama dan Papa duluan. Entar aku nyusul..” Lekas aku bergegas menuju Dito dengan raut muka kesal.
BRUUK “ooops.” Senggolku kasar membuat I Pad Dito terjatuh.
“Apa-apaan kamu ini ! Oh..aku tahu..”
“Sebagai ganti perbuatanmu yang kemarin.” Balasku memotong perkataannya.              “Dasar perempuan tak punya malu !!” Bela Nara pada Dito.
“Hisssh. Mau jadi pahlawan kesiangan.” Sindirku.
“Udah Ra. Abaikan, gak ada gunanya ngurusin orang macam ini. Gak terlalu parah juga kok. Kita pindah aja yuk Ra. Dan maaf atas tindakan ku yang kemarin. Assalamu’alaikum.”
“Whatever.” Bola mataku memutar sambil mengangkat kedua bahuku.
***
Untuk menghilangkan rasa penat, seusai ke clubing bersama teman-temanku, merilekskan diri dengan air hangat pilihan yang tepat. Dengan cara inilah aku bisa mencharge energiku. Kali ini aku tak sabar ingin menjajal dress yang baru aku beli kemarin. Suasana yang berbeda ketika pintu lemari terbuka. Dimana dressnya?! Baju-bajuku?! Serta yang lainnya !!!
“MAMAaa..” Isakku tak peduli mengobra abrik isi lemari.
“Kenapa nak?!” Kedua tangan Mama menutup telinganya.
“Baju Kinan !!!”
“Oh. Baju norak itu sudah mama singkirkan.” Ucap Mama santai.
“Norak Mama bilang !!! Ih..Mama ini... Ah !!!”
“Mama apa?! Mulai sekarang kamu belajar memakai pakaian hijab ini. Insya Allah Mama juga melakukannya.”
“Ogah amat.” Gerutuku langsung buang muka dihadapan Mama.
“Harus !!! 2 hari lagi kamu Mama pindahkan  ke sekolah terbaik. Sekolah Islam Unggulan. Ini sebab ulah kamu yang membuat Mama melakukannya. Kamu harus menerimanya. Disana kamu akan belajar mandiri di asrama, juga jaga sikap kamu. Mama dan Papa juga membiayai Resti untuk mendampingimu sekolah disana. Mama memilih Resti karena dia memiliki akhlak baik yang patut kamu terapkan.”
“Idiiih. Anak pembantu itu !!! terserah Mama mau ngomong apa. Kinan gak akan pindah. Disana bukan kehidupan Kinan !!” Gertakku tak terima.
“Baik tapi ada gantinya.”
“ATM ku di blokir, gak ada waktu main dan uang jajan selama sebulan? OK. Kinan terima!! Asal jauhkan tempat itu dari Kinan.”
“Bukan nak. Kemungkinan kamu dicoret dari daftar warisan. Mama tak ingin jika warisan itu disalahgunakan nantinya. Kecuali kamu berubah seperti yang Mama dan Papa harapkan” Jawab Mama mengejutkan.
“Apa maksud Mama ! Aku ini anak tunggal Mama. Lantas akan diwariskan pada siapa nantinya?!!”
“Mama belum bisa beritahu kamu. “
“Kali ini Kinan benar-benar marah sama Mama. Mama bisa setega itu !!! Keluar dari kamar Kinan.” Diriku langsung membelakangi Mama. Disitulah aku tak bisa menstabilkan emosiku.
 

Bersambung...

Komentar